Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Akuntansi  >  Artikel saat ini

Tujuan Pelaporan Keuangan

Oleh   /   Selasa 17 April 2018  /   Tidak ada komentar

Tujuan pelaporan keuangan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam suatu rerangka acuan konseptual maupun dalam suatu standar akuntansi keuangan. FASB menempatkan tujuan pelaporan keuangan (objectives of Financial Reporting by Business Enterprises) pada urutan yang pertama.

keuanganLSM

Tujuan Pelaporan Keuangan

Tujuan pelaporan keuangan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam suatu rerangka acuan konseptual maupun dalam suatu standar akuntansi keuangan. FASB menempatkan tujuan pelaporan keuangan (objectives of Financial Reporting by Business Enterprises) pada urutan yang pertama. Hal ini dapat dilihat dalam gambar-1 mengenai hierarki unsur dalam rerangka acuan konseptual FASB.

Penetapan tujuan pelaporan keuangan dalam suatu proses perekayasaan akuntansi harus memperhatikan apa yang menjadi tujuan sosial ekonomik negara tempat akuntansi akan diterapkan. Ketidakkonsistenan antara tujuan pelaporan keuangan dengan tujuan sosial ekonomik akan menyebabkan kekacauan dalam praktik akuntansi, yaitu arah yang tidak jelas dari akuntansi itu sendiri. Kekacauan ini akan terlihat jelas jika akuntansi tidak lagi mampu menjadi alat pertanggungjawaban manajemen kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Jika pihak luar perusahaan yang merasa mempunyai kepentingan terhadap aktivitas perusahaan tidak lagi puas dengan pertanggungjawaban manajemen melalui media laporan akuntansi keuangan, maka kepercayaan masyarakat terhadap akuntansi akan berkurang. Contohnya adalah mengenai tanggungjawab sosial perusahaan yang belum lazim diungkap melalui media akuntansi, karena tujuan pelaporan keuangan yang tidak mencakup kepentingan ini.

Setiap unit/pelaku ekonomi mempunyai tanggungjawab terhadap tujuan sosial ekonomik nasional. Jika tanggungjawab sosial ini juga merupakan bagian dari tanggungjawab manajemen, maka alat pertanggungjawaban manajemen kepada pihak eksternal harus pula konsisten dengan tanggungjawab sosialnya. Dengan demikian proses penetapan tujuan pelaporan keuangan harus pula mempertimbangkan tujuan sosial ekonomik. Dalam SFAC no. 1, FASB menyatakan bahwa:[1]

The objectives of financial reporting are not immutable. They are affected by the economic, legal, political, and social environment in which financial reporting takes place.

Selanjutnya dalam paragraph ke-9 dijelaskan:[2]

Accordingly the objectives in this statement are affected by the economic, legal, political, and social environment in the United States.

Tujuan pelaporan keuangan yang ditetapkan oleh FASB tersebut dinyatakan bersifat tidak kaku, karena disusun berdasarkan pertimbangan yang cermat terhadap situasi ekonomi, hukum, politik, dan lingkungan sosial tempat pelaporan keuangan akan diterapkan, yakni negara Amerika serikat.

Akuntansi sebagai alat sebenarnya tidak mempunyai tujuan, yang mempunyai tujuan sebenarnya adalah penyampaian informasi keuangan yang dihasilkan oleh akuntansi. Tujuan pelaporan keuangan mempunyai pengertian yang lebih luas dalam menggambarkan fungsi akuntansi sebagai penyedia informasi keuangan. Akuntansi merupakan suatu aktivitas menghasilkan jasa (service activity) berupa informasi keuangan, sehingga akuntansi sebagai alat akan memenuhi fungsinya dengan baik kalau jasa yang dihasilkan benar-benar merupakan jasa yang dibutuhkan oleh pihak yang berkepentingan dengan informasi keuangan tersebut.

Akuntansi akan bermanfaat kalau dapat digunakan sebagai alat untuk mengendalikan variabel-variabel ekonomi dan sosial dalam suatu masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu.[3] Oleh karena itu perlu dlidentifikasi variabel-variabel lingkungan seperti informasi tentang apa, siapa yang memerlukan informasi dan untuk pengambilan keputusan apa informasi tersebut diperlukan. Setelah variabel-variabel tersebut dapat diidentifikasi maka dapat ditentukan tujuan pelaporan keuangan yang ingin dicapai yang menjadi pengaruh dalam proses pemikiran dan pemilihan konsep-konsep yang relevan dengan tujuan tersebut. Tujuan yang berbeda tentu saja akan menghasilkan praktek akuntansi yang berbeda pula.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan pelaporan keuangan mempunyai hubungan yang erat dengan tanggungjawab sosial perusahaan, lebih luas lagi dengan tujuan sosial ekonomik negara (lihat gambar 2). Dalam gambar 2 tersebut digambarkan mengenai suatu proses perekayasaan akuntansi, yang menunjukkan tujuan pelaporan keuangan diderivasikan dari tujuan sosial ekonomik negara tempat akuntansi akan diterapkan. Akuntansi sebagai media/alat pertanggungjawaban manajemen tidak akan relevan lagi jika hanya menyangkut hubungan antara perusahaan dengan investor dan kreditor saja, karena tanggungjawab suatu perusahaan juga meliputi tanggungjawab sosial.

Aktivitas perusahaan tidak hanya menghasilkan laba atau menaikkan harga saham/ekuitas di pasar modal saja. Aktivitas perusahaan juga menimbulkan penyakit sosial seperti kerusakan ekosistem, polusi, kriminal, monopoli, keterbelakangan desa, meningkatnya utang nasional, diskriminasi dan lain-lain. Dalam hal ini akuntansi konvensional dituntut untuk lebih reaktif terhadap tanggungjawab sosial perusahaan tersebut. Paradigma-paradigma berikut ini merupakan kecenderungan perubahan sikap dari orientasi laba menuju orientasi sosial:[4]

1. Kecenderungan terhadap kesejahteraan sosial.

Sejarah menunjukkan bahwa kalangsungan hidup manusia dan kesejahteraan murni masyarakat hanya dapat lahir dari sikap kerja sama antar unit-unit masyarakat itu sendiri. Negara tidak dapat hidup sendiri tanpa partisipasi rakyatnya. Perusahaan juga tidak akan maju tanpa dukungan langganannya maupun lingkungan sosialnya. Kenyataan ini semakin disadari dan semakin dibutuhkan penerapannya.

2. Kecenderungan terhadap kesadaran Iingkungan.

Paradigma ini lebih dikenal dengan “The human exceptionalism paradigm” menuju “The new environment paradigm”. Paradigma yang pertama menganggap bahwa manusia adalah makhluk unik di bumi yang memiliki kebudayaan sendiri yang tidak dapat dibatasi oleh kepentingan makhluk lain. Sebaliknya paradigma yang kedua menganggap bahwa manusia adalah makhluk di antara bermacam-macam. Makhluk yang mendiami bumi yang saling mempunyai keterkaitan dan sebab akibat dan dibatasi oleh sifat keterbatasan dunia itu sendiri, baik sosial, ekonomi, atau politik. Sekarang manusia semakin menyadari bahwa paradigma yang kedualah yang benar dan yang menjadi pedoman, sehingga perhatian kepada lingkungan semakin besar.

3. Ecosystem perspective.

Orientasi yang terlalu diarahkan kepada pembangunan ekonomi, efisiensi, profit maximization menimbulkan krisis ekosistem. Gejala ini menaruh perhatian para ahli sehingga muncul kelompok-kelompok tingkat dunia yang berorientasi terhadap keselamatan lingkungan.

4. Ekonomisasi vs sosialisasi.

Ekonomisasi mengarahkan perhatiannya hanya kepada kepuasan individual sebagai suatu unit yang selalu mempertimbangkan biaya dan manfaat tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat. Sebaliknya sosialisasi memfokuskan perhatian terhadap kepentingan sosial dan selalu mempertimbangkan efek sosial yang ditimbulkan oleh kegiatannya. Walaupun sosialisasi ini belum tampak nyata, namun pengaruh pemerintah dan tekanan sosial cenderung menguntungkan kepentingan sosial.

Paradigma-paradigma di atas menunjukkan semakin kuatnya pengaruh isu-isu sosial terhadap pertanggungjawaban suatu perusahaan. Isu-isu sosial yang timbul, misalnya mengenai kesejahteraan karyawan dan pencemaran lingkungan oleh suatu perusahaan memperkuat bahwa tanggungjawab pengelolaan suatu perusahaan tidak hanya terbatas pada kepentingan investor dan kreditor. Dampak sosial akibat aktivitas perusahaan juga merupakan satu sisi tanggungjawab pihak manajemen kepada pihak luar.

[1] FASB,SFAC No.1: Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises, (Stamford Connecticut, November 1987), hal. Vii.

[2] FASB,SFAC No.1: Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises, (Stamford Connecticut, November 1987), hal. 5.

[3] Suwardjono, Seri Teori Akuntansi: Perekayasaan Akuntansi Keuangan, (Yogyakarta: BPFE 1989), hal.3.

[4] Sofyan Safri Harahap, “Pengantar Menuju Socio-Economic Accounting,” Akuntansi, Juni 1987, hal. 49.

Disarikan dari buku: Tujuan Pelaporan Keuangan, Penulis: Suwaldiman, M.Accy., SE., Akt., Hal: 28-31.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Apa itu Fraud? Mengapa Penting untuk Diketahui?

Selengkapnya →