Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita  >  Artikel saat ini

UMKM Perlu Serap Digital

Oleh   /   Rabu 21 Februari 2018  /   Tidak ada komentar

Usaha mikro, kecil, dan menengah perlu mengadopsi teknologi digital untuk menyesuaikan dengan pasar. Adaptasi teknologi digital ini diperlukan karena usaha mikro, kecil, dan menengah masih akan tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional.

UMKM Perlu Serap Digital

UMKM Perlu Serap Digital

Sumber: Kompas, 26 Januari 206.

Usaha mikro, kecil, dan menengah perlu mengadopsi teknologi digital untuk menyesuaikan dengan pasar. Adaptasi teknologi digital ini diperlukan karena usaha mikro, kecil, dan menengah masih akan tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Asmawi Syam mengatakan, adaptasi akan mendorong bisnis sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap berkelanjutan. “Saat ini, bisnis sudah mulai bergeser dengan menggunakan teknologi digital. UMKM harus mulai mengadopsi teknologi digital karena memang pasar sudah bergeser ke sana,” kata Asmawi di Jakarta, Senin (25/1).

Asmawi menyatakan, saat krisis ekonomi tahun 1998, UMKM menjadi tumpuan perekonomian nasional. Saat terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi tahun 2015, sektor ini juga tetap tahan.

“Menjelang akhir tahun lalu, rata-rata pertumbuhan kredit perbankan hanya 11 persen. Namun, kredit ke sektor UMKM masih bisa tumbuh 15 persen. UMKM tahan terhadap pelambatan pertumbuhan ekonomi, pelemahan nilai tukar, dan inflasi,” ujar Asmawi.

Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan, sektor UMKM berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto. “Sekitar 99 persen pelaku usaha di Indonesia berasal dari UMKM dan menyerap 97 persen pasar tenaga kerja nasional,” kata Rahmat.

Sektor UMKM menjadi satu dari dua fokus OJK pada 2016. OJK mendorong penguatan peran jasa keuangan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi di masyarakat. “Kami juga mendorong pengembangan ekonomi di daerah-daerah. Dengan UMKM dan ekonomi daerah yang makin kuat, perekonomian akan meningkat,” kata Rahmat.

Sumbangan minim

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga di Surabaya, Jawa Timur, Senin (25/1), menegaskan, sumbangan koperasi di Indonesia terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) dinilai masih minim, yakni hanya 1,9 persen. Terkait dengan hal tersebut, pemerintah mendorong diversifikasi usaha koperasi ke kegiatan produktif dan bukan semata terfokus pada kegiatan simpan pinjam.

“Sebagai perbandingan, sumbangan koperasi di Denmark terhadap perekonomian negara mencapai 67 persen,” kata Puspayoga pada acara percepatan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) dan pengembangan kewirausahaan. Dalam acara itu, hadir bank penyalur KUR serta pelaku UKM dan koperasi di Jatim.

Puspayoga mengatakan, perbanyakan koperasi produksi diyakini akan mendongkrak peranan koperasi atas PDB nasional. Apalagi saat ini kebanyakan koperasi di Indonesia bergerak di kegiatan simpan pinjam.

Berdasarkan data Kemenkop dan UKM per Desember 2014, dari total 209.488 unit koperasi di Indonesia, 147.249 unit merupakan koperasi aktif. Sebanyak 110.189 unit di antaranya menjalankan kegiatan simpan pinjam dan jasa keuangan syariah.

Puspayoga menuturkan, pemberian KUR untuk UKM produktif pun sejalan dengan upaya peningkatan kontribusi mereka pada perekonomian. Pelaku usaha yang bekerja individual pun bisa bergabung dalam koperasi.

Menurut Puspayoga, bentuk usaha koperasi pun diminati di banyak negara, termasuk negara yang selama ini dikenal sebagai negara kapitalis. “Berdasarkan rilis ICA (International Cooperative Alliance), sebanyak 100 dari 300 koperasi terbaik dunia ada di Amerika Serikat,” katanya.

Terkait dengan upaya peningkatan peran ekonomi koperasi, Deputi Pembiayaan Kemenkop dan UKM Braman Setyo menyatakan, pemerintah mendorong agar koperasi dapat sejajar dengan pelaku usaha lain. Salah satunya dengan mendorong tingkat kesehatan koperasi agar tidak hanya dikuasai segelintir orang.

Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan, sektor UMKM dan koperasi menjadi generator perekonomian Jatim. “Itu karena, dari Rp 1.690 triliun PDB Jatim tahun 2015, sebanyak 54,98 persen merupakan kontribusi UMKM,” katanya. (AHA/CAS)

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Impian Menteri Puspayoga, Anak Usaha Koperasi Lepas Saham

Selengkapnya →